BINTAN (eska) – Status Kabupaten Bintan sebagai salah satu daerah penghasil ayam pedaging di Kepulauan Riau kini tengah diuji.
Pasalnya, dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat di Pulau Bintan (Kabupaten Bintan dan Kota Tanjungpinang) mulai mengeluhkan kelangkaan stok yang diikuti dengan lonjakan harga di pasar.
Salah seorang pedagang ayam di Kijang, menyebut harga ayam masih diangka Rp40 ribuan untuk ayam yang ukuran besar.
“Kalau untuk yang kecil masih diangka Rp50 ribuan, masih tinggi,” ujarnya, Sabtu (03/01/2026).
Sementara itu, salah seorang pembeli, Rina yang merupakan pemilik salah satu tempat makan di Tanjungpinang mengatakan hal yang sama, ia menyebut harga ayam masih diatas biasanya.
“Harga masih belum stabil, kadang susah juga nyari ayamnya, karna kita pakai ayam yang kecil, bukan yang besar, itu harganya pun masih tinggi,” ungkapnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dugaan kuat adanya permainan oknum perantara atau broker yang memicu ketidakstabilan pasokan.
Padahal, secara produksi, kuota ayam untuk kebutuhan lokal di Pulau Bintan seharusnya mencukupi.
Namun, alih-alih mengutamakan pemenuhan kebutuhan di Pulau Bintan, para broker diduga lebih mendahulukan pengiriman stok ayam ke Kota Batam.
Praktik ini disinyalir dilakukan demi mengejar keuntungan lebih besar, meskipun mengorbankan stabilitas pangan di daerah penghasil itu sendiri.
Terkait isu ini, pihak PT Japfa Comfeed selaku salah satu produsen besar di Pulau Bintan, saat dikonfirmasi, enggan memberikan komentar.
Pihak perusahaan memilih untuk tidak mengeluarkan pernyataan resmi terkait distribusi kuota yang kini tengah menjadi sorotan.
Kelangkaan stok di tengah melimpahnya produksi ini menimbulkan tanda tanya besar terhadap pengawasan instansi terkait.
Peran Balai Karantina yang mengeluarkan izin keluar-masuk komoditas, serta Dinas terkait yang menerbitkan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH), kini berada dalam sorotan publik.
“Seharusnya pengiriman ke luar daerah baru bisa dilakukan jika kebutuhan di dalam pulau sudah benar-benar terpenuhi. Jika stok di Pulau Bintan langka tapi pengiriman ke Batam lancar, maka ada yang salah dengan proses verifikasi izinnya,” ujar salah satu warga yang mengaku bernama Toni.
Toni mendesak agar pemerintah daerah segera turun tangan melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan mengevaluasi izin pengiriman ayam ke luar Pulau Bintan guna menekan harga dan mengamankan stok di pasar lokal.
“Seharusnya pemerintah turun tangan, untuk mengevaluasi izin pengiriman, agar stok pasar di Pulau Bintan aman dan harga tidak naik,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, seputarkita.co terus melakukan konfirmasi kepada pihak Karantina, Dinas terkait, dan PT Japfa serta para Broker untuk kelengkapan berita. (Lam)



Recent Comments