BerandaSegantang LadaBintanPengusaha Bintan Minta Regulasi Distribusi Barang Pokok dari Batam Dipermudah

Pengusaha Bintan Minta Regulasi Distribusi Barang Pokok dari Batam Dipermudah

BINTAN (eska) – Sektor usaha di Kabupaten Bintan menyoroti tantangan distribusi dan regulasi bahan kebutuhan pokok yang hingga kini masih sangat bergantung pada pasokan dari Kota Batam.

Hal tersebut disampaikan oleh pengusaha lokal, Indra Setiawan, menanggapi isu ketersediaan serta kelancaran distribusi komoditas seperti beras, gula, dan minyak goreng.

Indra menjelaskan bahwa hampir seluruh kebutuhan pokok di Bintan didatangkan dari luar daerah, seperti Jakarta dan Medan, dengan Batam sebagai pintu distribusi utama.

Fasilitas pelabuhan yang lengkap menjadi alasan mengapa Batam menjadi titik transit paling efektif.

“Harapan kami, regulasi distribusi barang kebutuhan pokok dari Batam ke Bintan bisa dipermudah dan diberikan keringanan, sepanjang barang tersebut legal,” tegas Indra, Rabu (21/01).

Menurutnya, jika pengawasan terhadap barang ilegal sudah dilakukan secara ketat di pintu masuk Batam, maka distribusi barang legal ke daerah penyangga seperti Bintan seharusnya tidak perlu dipersulit.

Hal ini penting untuk menghindari munculnya kecurigaan di tengah masyarakat maupun dari aparat penegak hukum.

Mengenai komoditas beras, Indra mengakui bahwa Bulog telah berupaya menjangkau kebutuhan masyarakat. Namun, ia memberikan catatan terkait kualitas beras yang tersedia, khususnya jenis Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

“Ke depan, Bulog diharapkan bisa menyesuaikan kualitas beras dengan selera masyarakat Bintan. Karena tidak semua konsumen cocok dengan satu jenis beras saja,” ujarnya.

Indra juga menyinggung program Tol Laut yang dinilai belum dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku usaha lokal.

Tingginya biaya operasional pengiriman langsung dari daerah asal seperti Jakarta menjadi kendala utama, sehingga pengusaha lebih memilih mengambil barang dari agen di Batam.

Pengambilan barang dari Batam dianggap lebih efektif dan minim risiko modal. Melalui skema ini, pengusaha dapat mengambil stok dalam jumlah kecil terlebih dahulu untuk menguji pasar sebelum melakukan pembelian dalam skala besar secara rutin.

Baca Juga:  Pastikan Harga Stabil dan Bahan Pokok Aman Wabup Bintan Monitor Pasar di Kijang

“Kalau ambil langsung dari Jakarta, minimal harus satu kontainer atau sekitar 20 ton dengan nilai ratusan juta rupiah. Risikonya besar jika ternyata kualitas barang tidak sesuai. Sementara dari Batam, kami bisa ambil sedikit dulu untuk uji pasar,” terangnya.

Kondisi serupa juga berlaku pada komoditas gula dan bahan pokok lainnya. Menurut Indra, meski ada perbedaan harga, fleksibilitas dan keamanan risiko menjadikan Batam tetap sebagai pilihan paling rasional bagi para pengusaha di Bintan saat ini. (Yli)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments